Desa Wisata Jelok

Share on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterShare on LinkedInEmail this to someonePin on PinterestPrint this page

It is not fine dining, my friend.

There is no table manner, no plating. Jadi ini memang bukan cara makan edi peni, yang penuh dengan tata cara dan tata meja. Tapi ini cara makan ndesa, jan ndesa tenan. Makan di meja dan bangku kayu, di dalam kandang sapi, di tengah-tengah sawah hijau nan asri.
Setelah kamu keluar dari jalan utama Yogya-Wonosari, yang kamu temui adalah bentangan sawah hijau nan asri, di kiri maupun kanan jalan.

Sawah

Sawah-sawah di sepanjang jalan masuk ke desa Beji

Dan sawah lagi. Tanaman pohon pisang, jagung, dan kalanjana [rumput gajah].

Jalan masuk ke arah parkir jembatan gantung

Jalan masuk ke desa wisata Jelok

Jalan masuk ke desa wisata Jelok,  penandanya adalah jalan semen, belok kiri setelah 2 km dari jalan utama Yogya-Wonosari.

Sawah-sawah dan tanaman nan asri.

Sawah-sawah dan tanaman nan asri.

Sawah, Pohon kelapa, lingkungan tempat parkir kendaraan/mobil. Kalau motor masih bisa dikendarai menyeberang kali oya melalui Jembatan Gantung.

Selamat Datang Di Jelok, meyambut tamu menyeberangi Kali Oya melalui Jembatan Gantung. Jembatan Gantung ini hanya bisa dilewati orang atau motor.  Membentang menyeberangi kali Oya kira-2 100 meter, jembatan gantung ini diresmikan sejak 1999 oleh Sri Sultan Hamengkubuwono X.

p_20160129_102541

Plakat, Prasasti penanggalan peresmian Jembatan Gantung oleh Sri Sultan Hamengkubuwono X sebagai penanda dibukanya akses untuk warga Dusun Jelok menyebrangi Kali (Sungai) Oya. Bertanggal Kamis, 19 Agustus 1999.
Pintu masuk ke Lingkungan Desa Wisata Jelok. Awas Kepala, sebagai peringatan bagi tamu yang lewat agar menundukkan kepala karena tinggi pintu ini paling 150 cm. Ini pintu kayu rumah di desa-desa jaman simbah, dan memang pendek-2. Di rumah bapak di wonogiri masih ada ini pintu model seperti ini.
Selamat datang di Kampung Resto Jelok…..
Ini di hall utama setelah pintu masuk. Biasa juga dipakai untuk pentas gamelan, jathilan. atau sekedar ngobrol2 tamu. Di sebelah barat parkiran motor/komplek kandang sapi, rencananya akan dibuat panggung seni dan lapangan untuk kemping. Mungkin saat ini sudah jadi, aku belum menengok lagi ke sini.

p_20160129_103312
Lampu minyak gantung, dolanan anak dakon, wayang, barang-barang ini sudah jarang ada. Kayaknya sudah nggak dipakai lagi di rumah2 desa, sudah diganti lampu listrik, tablet, dan tipi warna.

p_20160129_103403
Setelah melewati hall utama, ke kanan akan ketemu jajarang bangunan seperti ini. Kandang-kandang sapi di tengah sawah.
Di jajaran sebelah kanan, ada juga tempat untuk menginap rumah-rumah kayu berbentuk limasan bagi tamu yang ingin menginap di Desa wisata.

Meja dan Bangku Kayu di dalam kandang sapi, tempat menikmati sajian kuliner ndesa.
Patung Loro Blonyo ini akan menemanimu menikmati makan
Nah, makanan pesanan sudah datang. disajikan dengan menggunakan tampah (baki anyaman bambu). Ayam kampung goreng dan lalapan, sayur lodeh, sayur lombok ijo, nasi putih.

Ini namanya Jangan (Sayur) Lodeh (kiri) dan Jangan Lombok Ijo. Kalau kamu nggak bisa membedakan ada baiknya untuk mencoba sendiri menikmati kedua sayur ini, supaya benar-benar bisa merasakan bedanya.
Atau aku kasih bocorannya sedikit.
Jadi sayur lodeh yang di sini isinya terong (kadang jipan), kacang, kulit mlinjo, godhong mlinjo, lombok abang campur ijo dirajang, santen. Nah, yang sayur lombok ijo isinya tahu, tempe, lombok ijo dirajang, santen. Lho, sama aja dong brarti. Nggak lah, isinya beda, bumbu tambahannya juga beda kok.
Dari penampakannya kan kelihatan beda, ya. Sayur lodeh menggunakan santan ringan [encer] dan dimasak dengan cara direbus sepenuhnya. Sedangkan sayur jangan lombok ijo, dimasak dengan cara digangsa/ditumis lebih dulu [kelihatan, kan, minyak-minyak mengambang], dan santan yang digunakan adalah santan kental dari kelapa tua. Mestinya santan kelapa perasan pertama dipakai untuk memasak sayur lombok ijo, kemudian perasan kedua ketiga yang encer dipakai untuk memasak sayur lodeh.
Kelapanya pun kelapa asli, bukan santan pabrikan yang di supermarket itu. Karena rasanya pasti beda. Memasak itu soal rasa, bukan teknologi. Dan untuk urusan rasa ini, memasaknya juga pakai kayu, bukan kompor gas.

p_20160129_111339
Gurihnya ayam kampung, dan empuk. Disajikan bersama lalapan dan sambel bawang mentah. Lalapan, cabe, dan ayam kampung yang digunakan tumbuh dan dipelihara warga Jelok dan sekitarnya.

Harga makanannya berapa? Ini dia daftar harga makan waktu itu [ Januari 2016] murah-meriah untuk ukuran Njakarta. Pernahkah kamu bayangkan bagaimana mereka bisa memberi harga ayam kampung goreng 15.000,- rupiah saja? Sayur Lombok Ijo dan Lodeh (1 porsi bisa untuk 3-4 orang) 5.000,- rupiah saja?

Mungkin kamu masih bertanya-tanya harga murah menu makanan di Desa Wisata Jelok ini. Kalau melihat konsepnya, ini bukanlah Desa Wisata komersial. Kesannya memang lebih sebagai sebuah penyambutan warga kepada tamunya. Nampa Tamu, yang dianggap kadang (saudara), sebagai semangat dasar Desa Wisata Jelok, dapat dilihat dari ruang dan suguhan yang disediakan. Ruangnya berupa ruang yang memang ndesa, berada di lingkungan sawah di desa. Makanan yang disajikan, adalah yang memang tumbuh di desa ini dan sekitarnya. Mulai dari padi, sayuran, lalapan, bumbu [cabe, rempah], jajan pasar tela gedhang, ayam kampung yang dipelihara oleh warga sendiri, tahu tempe bikinan warga.

Ingat ya, sedulur, Indonesia itu bukan hanya Njakarta dan Ahok. Di Indonesia ada juga Jelok, di Desa Beji, Patuk, Gunungkidul. Ini adalah juga Indonesia. Yang Handayani. Memberi kekuatan. Maka dari desalah sesungguhnya kota lahir dan tumbuh. Desa adalah ibunya Kota (meminjam istilah Pak Damardjati). Menjadi yang Asal. Sebagaimana yang asal, ia selalu memiliki energi tambatan, energi yang selalu menarikmu untuk kembali, tempat pulang. Tidak peduli kamu di Njakarta, Holland, Ki El, Mbelgi, Frankfrut, Dubai, Houston, energi ini pada saat-saat tertentu memanggil-manggilmu. Pulanglah, Nak, ibumu memanggilmu.

Desa Wisata Jelok

Dusun Jelok,
Desa Beji,
Kecamatan Patuk,
Kabupaten Gunungkidul
Kira-2 Km. 28 Jl Yogya-Wonosari

Share on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterShare on LinkedInEmail this to someonePin on PinterestPrint this page

Leave a Reply